”Risa,ayo
bangun,bisa bangun nggak sih lo,kalo
nggak bangun nggak bakal gua kasih makan!” jerit Ibu tiri Risa sambil
mengguyurkan air padanya.Risa pun sontak kaget dengan guyuran air itu.
“ampun
Mah,ampun,dingin Mah.” pinta Risa sambil menahan dingin.Ya,Risa namanya.Anak
berumur 10 tahun tersebut dibesarkan oleh Ayah kandung,tetapi tidak dengan
Ibu kandungnya,melainkan Ibu
tirinya.Setiap hari,selalu ada jeritan dari mulut mungilnya karena menahan
sakit dari siksaan Ayah serta Ibu tirinya.Ibu kandungnya telah tiada sejak 6
bulan lalu karena di hantam asbak kaca oleh Ayah Risa.
“Risa!Ayo
cepetan,bisa cepet dikit gak sih,lama amat jadi bocah!” jerit Ayahnya.Risa pun
lari tergopoh-gopoh dari dalam rumah lalu masuk ke mobilnya.Di dalammobil,hatinya
berdebar kencang karena hari ini merupakan hari pengambilan rapor yang akan di
ambil langsung oleh Ayah Risa.
“Beginilah
hasil ananda Risa selama satu semester ini,hasilnya menurun drastis.Saya
mohon,Bapak tidak memarahinya di rumah dan tetap memberi motivasi untuk
Risa,selain itu juga mendampingi Risa belajar,terimakasih.” Ujar Ibu Guru
Risa.Ayah Risa menatapRisa dengan tajam dan penuh amarah.Risa mengerti bahwa
Ayahnya itu sekarang sedang marah besar.Ia pun takut karena sesampainya di
rumah nanti,Ia pasti akan di pukuli oleh Ayahnya.
Benar
saja,ketika sore menjelang,Risa yang sedang asyik memainkan boneka di ruang
keluarga tiba-tiba rambutnya di jambak dari belakang.Risa pun menjerit dan
hampir menangis,”Aduh,sakit!” katanya.”Makanya,kalo jadi anak itu dibilangin
jangan ngeyel,kamu tuh sama ya kaya Bunda kamu,Cuma bisa nyusahin aja!”Ayah
Risa pun memarahinya.Tiba-tiba,Ia pun mengambil buku rapor dan di pukulkan ke
tubuh Risa berulang kali.Risa hanya bisa terdiam menahan sakit.”Makan tuh
rapor,Ayah bosen liat muka kamu!” bentak nya lagi.Risa lalu terdiam dan
meneteskan air matanya.Kenapa Ayah jadi
kasar sama Risa sekarang,Ayah udah beda dari yang dulu,batinnya.
“Risa!Risa,bawain
belanjaan Mamah nih,Mamah capek habis keliling-keliling beli kebutuhan Mamah”
ujarnya.Risa pun segera menyeka air matanya dan berlari ke teras rumah lalu
segera membawa barang belanjaan Ibu tirinya.Brukkk...tas isi barang belanjaan
pun jatuh saat akan di bawa oleh Risa.”Heh,lu bisa nggak sih bawain
barang-barang gue,mahal-mahal ini,lu emang bisa ganti kalo sampe ada yang
rusak?yang becus dong kalo kerja,tolol!” omel Ibu tirinya.Risa segera membawa
barang belanjaannya itu kelantai 2 dimana kamar Ayah dan Mama tiri Risa.
Hari
demi hari berlalu.Selama 3 minggu liburan ini,Risa hanya tinggal di rumah atau
kadang bermain bersama teman-temannya ketika Ayah dan Ibu tirinya pergi.Suatu
ketika,di malam hari yang dingin,Risa sendirian berada dirumahnya karena Ayah
dan Ibu tirinya sedang pergi berbelanja,Dia merasa lapar,Aduh laper,tapi kira-kira di meja makan ada makanan nggak ya,ah
nungguin Ayah sama Mamah aja,pasti mereka sebentar lagi pulang,habis itu kita
bertiga makan bareng biar kita bisa ngobrol,sip! Batin Risa.
Risa
pun mulai mengantuk karena menunggu Ayah dan Ibu tirinya tak kunjung
pulang.Risa pun tertidur.”Heh Risa,ngapain kamu tidur disitu,pindah sana ke
kamar!” Teriak Ayah Risa.”Risa Cuma pengen makan malem bareng sama Ayah
sama..”Kata-kata Risa terhenti karena di potong oleh Ayahnya.”Cepet ke
kamar!banyak alesan ya kamu!”.”Ayah kenapa sih sekarang jadi berubah,jadinggak
sayang sama Risa lagi!” Teriak Risa.Namun teriakan itu di balas tamparan dari
Ayahnya yang mendarat dipipinya.Risa berlari ke kamar nya dan menangis di balik
selimut yang Ia kenakan.Sementara itu,di ruang tamu,Ibu tiri Risa berusaha
mempengaruhi Ayah Risa agar Dia mengusir anaknya dari rumah tersebut.”Ih Mas,masih
mau punya anak kaya gitu,buang aja deh Mas,jadiin gembel noh di pinggiran
jalan.”Ujar Ibu tiri Risa.Ayah Risa pun hanya diam dan tak menanggapi.Sebenarnya
di hati kecil Ayah Risa,Dia masih sangat menyayangi Risa,tetapi entah kenapa
rasa sebal selalu datang saat Ia melihat Risa.
Hari-hari
berlalu,pukulan,tamparan,jiwitan,dan siksaan lainnya di terima oleh Risa.Suatu hari
Risa sedang bermain boneka di rumah temannya.Temannya secara tidak sengaja melihat bekas memar dan
sambitan di tangan kiri Risa.”Risa,kok tangan kamu memar?kamu habis di pukulin
sama Mama Papa kamu?”tanya Bela,teman dekat Risa.”E,em...enggak kok,ini aku
kemarin habis jatoh terus jadi memar gini.” Risa berusaha
menutup-nutupi.”Ooohh...” jawab Bela.
Sore
pun datang.Risa harus pulang karena jika Dia terlambat sampai rumah,sudah pasti
akan di pukuli oleh Ayahnya.Tetapi,Risa juga takut untukpulang,karena di rumah
juga pasti tetap akan di siksa.Satu per satu teman Risa pulang.Ada yang
dijemput oleh Mama mereka,ada yang pulang sendiri.Sekarang hanya tinggal ada
Risa dan Bela yang belum pulang.Tin tin.... suara klakson mobil Bela
terdengar.”Bela,ayo kita pulang.Mamah udah masakin rendang kesukaan Bela.Eh
Risa,Risa belum di jemput?” Kata Mama Bela.”Habis ini juga di jempu Tante,nggak
papa kok Risa bakal nunggu sebentar lagi” Risa pun menyunggingkan
senyumnya.”Beneran?ayo bareng Tante aja pulangnya,nanti Tante anter sampe
rumah,ya?” tawar Mama Bella.Risa pun menggelengkan kepala dan tersenyum.”Nggak
usah Tante,makasih banyak.” Katanya.”Oke deh kalo gitu,Tante sama Bela pulang
dulu ya,dadahh...”Ujar Mama Bela.Risa memandangi mereka dan berkata dalam
hatinya,Andai aku masih punya Bunda,Aku nggak
akan kayak gini.
Sampai
malam pun Risa akhirnya memberanikan diri untuk pulang.Setibanya di teras
rumah,Ia segera membuka pintunya.Kepalanya melongok ke dalam untuk melihat
apakah disana ada Ayah atau Mama.Betapa kagetnya Risa ketika Ayahnya tiba-tiba
muncul dari balik pintu.Bukk...badan Risa di pukuloleh Ayahnya
berkali-kali.Risa hanya bisa menangisdan lagi-lagi menahan sakit yang amat
sangat membuatnya menderita.Setelah di pukuli,Risa pun menuju kamarnya dan
menangis sambil memegang foto Ibunya.”Bunda,kenapa Bunda tega ninggalin Risa
sama Mamah tiri yang jahat,sekarang Ayah lebih sayang sama Mamah tiri Risa
daripada sama Risa sendiri,aku kangen sama Bunda.”Tangis nya pun semakin
menusuk hatinya ketika Ia ingat bagaimana pesan terakhir Bunda nya sebelum
akhirnya tiada karena siksaan Ayahnya.
“Eh
kamu bisa kasih apa mas ke aku?kamu dulu waktu nikahin aku bakal selalu menuhin
kebutuhan aku kan,tapi apa?sekarang gajimu ga akan cukup buat beli baju-baju
branded kesukaanku.Nyesel aku nikah sama kamu,aku mau pergi dari rumah ini.Mana
anak kamu yang bandel banget di bilangin,gatu diri juga,hihh bikin sebel!”
jerit Ibu tiri Risa.”Mah tunggu dulu mah tunggu...” pinta Ayah
Risa.Ternyata,Ibu tiri Risa dan Ayah Risa sedang bertengkar hebat.Risa yang
mendengarnya hanyabisa terdiam dari kamarnya.Ibu tiri Risa pun meninggalkan
Rumah mereka.
Sekarang,Risa
hanya tinggal berdua saja dengan Ayah kandung Risa.Risa berharap,dengan kondisi
seperti ini,akan mengembalikan sifat Ayah Risa seperti dulu,yang lemah
lembut,juga perhatian.
Suatu
hari,Ayah Risa pulang dari kantor lebih awal,lalu seperti biasanya,jam tangan
kesayangannya di letakkannya di meja ruang keluarga.Secara tak sadar,Risa
bermain di sekitar jam tangan Ayahnya yang sangat mahal.Saking asyiknya Risa
bermain,Dia secara tak sengaja menyenggol jam tangan Ayahnya lalu terjatuh dan
pecah.Risa berniat untuk mengganti jam tangan tersebut tanpa sepengetahuan
Ayahnya.
Pagi
harinya,Risa berjalan ke Ruko di dekat rumahnya untuk mencari pekerjaan agar
Risa bisa mendapat uang.Wah,kafenya Tante
Ovi,aku bakal nyoba jadi pekerja di sini ahh,batinnya.
“Tante
please ya,Risa jadi pekerjadi sini beberapa hari aja,soalnya Risa mau beliin
Ayah jam tangan baru,please ya Tante.” Pinta Risa.”Risa,bukannya nggak
boleh,tapi nanti kalo dikira tante mempekerjakan anak di bawah umur kan Tante
yang kena resiko.” Ujar Tante Ovi.Risa pun masih memaksa dan akhirnya Tante Ovi
menyerah dan memperbolehkan Risa bekerja di situ untuk beberapa hari ke depan.
Dengan
semangat Risa meracik kopi dan makanan bagi para pembeli serta pelanggan yang
ada di situ.Sampai akhirnya hari penerimaan gaji bagi Risa datang.Risa sangat
gembira karena Ia dapat membeli barang tanpa uang dari pemberian orangtua.
Risa
bergegas ke toko arloji dan membeli jam tangan untuk Ayahnya.setelah Risa
membeli jam tangan itu,Ia membungkusnya dengan kertas seadanya dan di dalamnya
terdapat tulisan RISA SAYANG AYAH,AYAH MAAFIN RISA YA.
Sesampainya
Risa dirumah ketika Ia akan ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya,Ayah Risa
yang berada diruang tamu melihat Risa danmencegahnya untuk pergi ke kamar.”Dari
mana aja kamu seharian,main terus ya bisanya,ga pernah mbantuin orangtua.”
Sentak Ayah Risa.Risa hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya ke kamar.Tetapi
Ayah Risa masih mencegahnya dn menyuruh Risa untuk datang kepadanya.Jam tangan
yang akan di berikan pada Ayahnya itu Ia simpan di balik tubuhnya.Tiba-tiba
Ayah Risa mengambil sabuk untuk disambitkan ke Risa.Risa pun memohon ampun pada
Ayahnya.Tapi, Ayah Risa sudah kehilangan kendali.Dia menyambit Risa berulang
kali.”Ayah sakit Ayah,sakit,Risa nggakakan ngulangin lagi.” Kata Risa sambil
menangis keras.”Kamu emang nggak tau diri ya,nih rasain!” Bentak Ayah Risa
sambil terus menyambitnya dengan sabuk.Setelah Ayah Risa menyambit menggunakan
ekor sabuk,dan Risa pun mulai lemas,Ayah Risa menggunakan kepala sabuk untuk
yang terakhir kali nya menyambit Risa.Sambitan itu mengenai kepalaRisa sehingga
Risa langsung terjatuh dan sudah tiada seketika.
Kotak
jam tangan untuk hadiah Ayah pun terjatuh.Lalu Ayah Risa pun tersadar apa yang
baru saja dia lakukan.Dia telah membunuh anak semata wayangnya dengan
keji,padahal anaknya sudah menyiapkan hadiah untuknya.Rasa penyesalan pun datang.Akan
tetapi semuasudah terjadi.Tak akan ada lagi Risa yang selalu ceria,Risa yang selalu
manja dan meminta perhatian.Ayah Risa hanya bisa memeluk jasad Risa sekarang
dan memegangi kotak jam tangannya.”Maafin Ayah nak,Ayah selama ini selalu
nyiksa kamu sampe nyawa kamu Ayah renggut sendiri,Risaaa,Ayah selalu sayang
sama kamu nak.Maafin Ayah Risaaaa...” sesal Ayah Risa.