Rabu, 06 April 2016

            ”Risa,ayo bangun,bisa bangun  nggak sih lo,kalo nggak bangun nggak bakal gua kasih makan!” jerit Ibu tiri Risa sambil mengguyurkan air padanya.Risa pun sontak kaget dengan guyuran air itu.
          “ampun Mah,ampun,dingin Mah.” pinta Risa sambil menahan dingin.Ya,Risa namanya.Anak berumur 10 tahun tersebut dibesarkan oleh Ayah kandung,tetapi tidak dengan Ibu  kandungnya,melainkan Ibu tirinya.Setiap hari,selalu ada jeritan dari mulut mungilnya karena menahan sakit dari siksaan Ayah serta Ibu tirinya.Ibu kandungnya telah tiada sejak 6 bulan lalu karena di hantam asbak kaca oleh Ayah Risa.
          “Risa!Ayo cepetan,bisa cepet dikit gak sih,lama amat jadi bocah!” jerit Ayahnya.Risa pun lari tergopoh-gopoh dari dalam rumah lalu masuk ke mobilnya.Di dalammobil,hatinya berdebar kencang karena hari ini merupakan hari pengambilan rapor yang akan di ambil langsung oleh Ayah Risa.
          “Beginilah hasil ananda Risa selama satu semester ini,hasilnya menurun drastis.Saya mohon,Bapak tidak memarahinya di rumah dan tetap memberi motivasi untuk Risa,selain itu juga mendampingi Risa belajar,terimakasih.” Ujar Ibu Guru Risa.Ayah Risa menatapRisa dengan tajam dan penuh amarah.Risa mengerti bahwa Ayahnya itu sekarang sedang marah besar.Ia pun takut karena sesampainya di rumah nanti,Ia pasti akan di pukuli oleh Ayahnya.
          Benar saja,ketika sore menjelang,Risa yang sedang asyik memainkan boneka di ruang keluarga tiba-tiba rambutnya di jambak dari belakang.Risa pun menjerit dan hampir menangis,”Aduh,sakit!” katanya.”Makanya,kalo jadi anak itu dibilangin jangan ngeyel,kamu tuh sama ya kaya Bunda kamu,Cuma bisa nyusahin aja!”Ayah Risa pun memarahinya.Tiba-tiba,Ia pun mengambil buku rapor dan di pukulkan ke tubuh Risa berulang kali.Risa hanya bisa terdiam menahan sakit.”Makan tuh rapor,Ayah bosen liat muka kamu!” bentak nya lagi.Risa lalu terdiam dan meneteskan air matanya.Kenapa Ayah jadi kasar sama Risa sekarang,Ayah udah beda dari yang dulu,batinnya.
          “Risa!Risa,bawain belanjaan Mamah nih,Mamah capek habis keliling-keliling beli kebutuhan Mamah” ujarnya.Risa pun segera menyeka air matanya dan berlari ke teras rumah lalu segera membawa barang belanjaan Ibu tirinya.Brukkk...tas isi barang belanjaan pun jatuh saat akan di bawa oleh Risa.”Heh,lu bisa nggak sih bawain barang-barang gue,mahal-mahal ini,lu emang bisa ganti kalo sampe ada yang rusak?yang becus dong kalo kerja,tolol!” omel Ibu tirinya.Risa segera membawa barang belanjaannya itu kelantai 2 dimana kamar Ayah dan Mama tiri Risa.
          Hari demi hari berlalu.Selama 3 minggu liburan ini,Risa hanya tinggal di rumah atau kadang bermain bersama teman-temannya ketika Ayah dan Ibu tirinya pergi.Suatu ketika,di malam hari yang dingin,Risa sendirian berada dirumahnya karena Ayah dan Ibu tirinya sedang pergi berbelanja,Dia merasa lapar,Aduh laper,tapi kira-kira di meja makan ada makanan nggak ya,ah nungguin Ayah sama Mamah aja,pasti mereka sebentar lagi pulang,habis itu kita bertiga makan bareng biar kita bisa ngobrol,sip! Batin Risa.
          Risa pun mulai mengantuk karena menunggu Ayah dan Ibu tirinya tak kunjung pulang.Risa pun tertidur.”Heh Risa,ngapain kamu tidur disitu,pindah sana ke kamar!” Teriak Ayah Risa.”Risa Cuma pengen makan malem bareng sama Ayah sama..”Kata-kata Risa terhenti karena di potong oleh Ayahnya.”Cepet ke kamar!banyak alesan ya kamu!”.”Ayah kenapa sih sekarang jadi berubah,jadinggak sayang sama Risa lagi!” Teriak Risa.Namun teriakan itu di balas tamparan dari Ayahnya yang mendarat dipipinya.Risa berlari ke kamar nya dan menangis di balik selimut yang Ia kenakan.Sementara itu,di ruang tamu,Ibu tiri Risa berusaha mempengaruhi Ayah Risa agar Dia mengusir anaknya dari rumah tersebut.”Ih Mas,masih mau punya anak kaya gitu,buang aja deh Mas,jadiin gembel noh di pinggiran jalan.”Ujar Ibu tiri Risa.Ayah Risa pun hanya diam dan tak menanggapi.Sebenarnya di hati kecil Ayah Risa,Dia masih sangat menyayangi Risa,tetapi entah kenapa rasa sebal selalu datang saat Ia melihat Risa.
          Hari-hari berlalu,pukulan,tamparan,jiwitan,dan siksaan lainnya di terima oleh Risa.Suatu hari Risa sedang bermain boneka di rumah temannya.Temannya secara  tidak sengaja melihat bekas memar dan sambitan di tangan kiri Risa.”Risa,kok tangan kamu memar?kamu habis di pukulin sama Mama Papa kamu?”tanya Bela,teman dekat Risa.”E,em...enggak kok,ini aku kemarin habis jatoh terus jadi memar gini.” Risa berusaha menutup-nutupi.”Ooohh...” jawab Bela.
          Sore pun datang.Risa harus pulang karena jika Dia terlambat sampai rumah,sudah pasti akan di pukuli oleh Ayahnya.Tetapi,Risa juga takut untukpulang,karena di rumah juga pasti tetap akan di siksa.Satu per satu teman Risa pulang.Ada yang dijemput oleh Mama mereka,ada yang pulang sendiri.Sekarang hanya tinggal ada Risa dan Bela yang belum pulang.Tin tin.... suara klakson mobil Bela terdengar.”Bela,ayo kita pulang.Mamah udah masakin rendang kesukaan Bela.Eh Risa,Risa belum di jemput?” Kata Mama Bela.”Habis ini juga di jempu Tante,nggak papa kok Risa bakal nunggu sebentar lagi” Risa pun menyunggingkan senyumnya.”Beneran?ayo bareng Tante aja pulangnya,nanti Tante anter sampe rumah,ya?” tawar Mama Bella.Risa pun menggelengkan kepala dan tersenyum.”Nggak usah Tante,makasih banyak.” Katanya.”Oke deh kalo gitu,Tante sama Bela pulang dulu ya,dadahh...”Ujar Mama Bela.Risa memandangi mereka dan berkata dalam hatinya,Andai aku masih punya Bunda,Aku nggak akan kayak gini.
          Sampai malam pun Risa akhirnya memberanikan diri untuk pulang.Setibanya di teras rumah,Ia segera membuka pintunya.Kepalanya melongok ke dalam untuk melihat apakah disana ada Ayah atau Mama.Betapa kagetnya Risa ketika Ayahnya tiba-tiba muncul dari balik pintu.Bukk...badan Risa di pukuloleh Ayahnya berkali-kali.Risa hanya bisa menangisdan lagi-lagi menahan sakit yang amat sangat membuatnya menderita.Setelah di pukuli,Risa pun menuju kamarnya dan menangis sambil memegang foto Ibunya.”Bunda,kenapa Bunda tega ninggalin Risa sama Mamah tiri yang jahat,sekarang Ayah lebih sayang sama Mamah tiri Risa daripada sama Risa sendiri,aku kangen sama Bunda.”Tangis nya pun semakin menusuk hatinya ketika Ia ingat bagaimana pesan terakhir Bunda nya sebelum akhirnya tiada karena siksaan Ayahnya.
          “Eh kamu bisa kasih apa mas ke aku?kamu dulu waktu nikahin aku bakal selalu menuhin kebutuhan aku kan,tapi apa?sekarang gajimu ga akan cukup buat beli baju-baju branded kesukaanku.Nyesel aku nikah sama kamu,aku mau pergi dari rumah ini.Mana anak kamu yang bandel banget di bilangin,gatu diri juga,hihh bikin sebel!” jerit Ibu tiri Risa.”Mah tunggu dulu mah tunggu...” pinta Ayah Risa.Ternyata,Ibu tiri Risa dan Ayah Risa sedang bertengkar hebat.Risa yang mendengarnya hanyabisa terdiam dari kamarnya.Ibu tiri Risa pun meninggalkan Rumah mereka.
          Sekarang,Risa hanya tinggal berdua saja dengan Ayah kandung Risa.Risa berharap,dengan kondisi seperti ini,akan mengembalikan sifat Ayah Risa seperti dulu,yang lemah lembut,juga perhatian.
          Suatu hari,Ayah Risa pulang dari kantor lebih awal,lalu seperti biasanya,jam tangan kesayangannya di letakkannya di meja ruang keluarga.Secara tak sadar,Risa bermain di sekitar jam tangan Ayahnya yang sangat mahal.Saking asyiknya Risa bermain,Dia secara tak sengaja menyenggol jam tangan Ayahnya lalu terjatuh dan pecah.Risa berniat untuk mengganti jam tangan tersebut tanpa sepengetahuan Ayahnya.
          Pagi harinya,Risa berjalan ke Ruko di dekat rumahnya untuk mencari pekerjaan agar Risa bisa mendapat uang.Wah,kafenya Tante Ovi,aku bakal nyoba jadi pekerja di sini ahh,batinnya.
          “Tante please ya,Risa jadi pekerjadi sini beberapa hari aja,soalnya Risa mau beliin Ayah jam tangan baru,please ya Tante.” Pinta Risa.”Risa,bukannya nggak boleh,tapi nanti kalo dikira tante mempekerjakan anak di bawah umur kan Tante yang kena resiko.” Ujar Tante Ovi.Risa pun masih memaksa dan akhirnya Tante Ovi menyerah dan memperbolehkan Risa bekerja di situ untuk beberapa hari ke depan.
          Dengan semangat Risa meracik kopi dan makanan bagi para pembeli serta pelanggan yang ada di situ.Sampai akhirnya hari penerimaan gaji bagi Risa datang.Risa sangat gembira karena Ia dapat membeli barang tanpa uang dari pemberian orangtua.
          Risa bergegas ke toko arloji dan membeli jam tangan untuk Ayahnya.setelah Risa membeli jam tangan itu,Ia membungkusnya dengan kertas seadanya dan di dalamnya terdapat tulisan RISA SAYANG AYAH,AYAH MAAFIN RISA YA.
          Sesampainya Risa dirumah ketika Ia akan ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya,Ayah Risa yang berada diruang tamu melihat Risa danmencegahnya untuk pergi ke kamar.”Dari mana aja kamu seharian,main terus ya bisanya,ga pernah mbantuin orangtua.” Sentak Ayah Risa.Risa hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya ke kamar.Tetapi Ayah Risa masih mencegahnya dn menyuruh Risa untuk datang kepadanya.Jam tangan yang akan di berikan pada Ayahnya itu Ia simpan di balik tubuhnya.Tiba-tiba Ayah Risa mengambil sabuk untuk disambitkan ke Risa.Risa pun memohon ampun pada Ayahnya.Tapi, Ayah Risa sudah kehilangan kendali.Dia menyambit Risa berulang kali.”Ayah sakit Ayah,sakit,Risa nggakakan ngulangin lagi.” Kata Risa sambil menangis keras.”Kamu emang nggak tau diri ya,nih rasain!” Bentak Ayah Risa sambil terus menyambitnya dengan sabuk.Setelah Ayah Risa menyambit menggunakan ekor sabuk,dan Risa pun mulai lemas,Ayah Risa menggunakan kepala sabuk untuk yang terakhir kali nya menyambit Risa.Sambitan itu mengenai kepalaRisa sehingga Risa langsung terjatuh dan sudah tiada seketika.

          Kotak jam tangan untuk hadiah Ayah pun terjatuh.Lalu Ayah Risa pun tersadar apa yang baru saja dia lakukan.Dia telah membunuh anak semata wayangnya dengan keji,padahal anaknya sudah menyiapkan hadiah untuknya.Rasa penyesalan pun datang.Akan tetapi semuasudah terjadi.Tak akan ada lagi Risa yang selalu ceria,Risa yang selalu manja dan meminta perhatian.Ayah Risa hanya bisa memeluk jasad Risa sekarang dan memegangi kotak jam tangannya.”Maafin Ayah nak,Ayah selama ini selalu nyiksa kamu sampe nyawa kamu Ayah renggut sendiri,Risaaa,Ayah selalu sayang sama kamu nak.Maafin Ayah Risaaaa...” sesal Ayah Risa.

1 komentar:

  1. Ya, penulisan huruf kapital untuk Ayah, Ibu, yang bukan sapaan perlu hati-hati. --> Maafin Ayah nak,Ayah selama ini selalu nyiksa kamu sampe nyawa kamu Ayah renggut sendiri,Risaaa,Ayah selalu sayang sama kamu nak.Maafin Ayah Risaaaa...” sesal Ayah Risa.

    BalasHapus